Nasi Tempong

sego tempong.jpg

TAK lengkap kalau ke Banyuwangi tanpa mencicipi nasi tempong. Kuliner khas kabupaten di ujung Timur Jawa ini membawa indera pengecap kita menjelajahi rasa ala banyuwangian: manis, asam, dan asin, sekaligus pedas yang menampar.

Nasi tempong adalah nasi dengan sambal pedas yang menggigit khas Banyuwangi dengan paduan rasa segar tomat ranti, terasi, cabai rawit, dan jeruk sambal. Sambalnya selalu segar karena dibuat langsung begitu kita memesan makanan. Meski dikenal pedas, pembeli bisa mengatur sendiri level pedas yang diinginkan, mau yang pedasnya malu-malu, sedang, atau yang menampar.

Nasi tempong biasanya disajikan hangat, dengan paket lauk gorengan yang serba gurih, seperti tempe, tahu, perkedel jagung, dan ikan asin. Biasanya penjual juga menyediakan lauk opsional yang bisa ditambah, seperti telur dadar, cumi asin, ayam goreng, ikan laut, hingga rempeyek alias iwak peyek. Sayur rebus, seperti labu siam, genjer, bayam, terong, dan kemangi, pun melengkapi hidangan rakyat itu.

Di festival itu, nasi tempong memang dihadirkan untuk dikenalkan sebagai kuliner khas Banyuwangi. Chef Marinka yang hadir dalam festival itu ikut mengulek sambal tempong buatannya. Nasi tempong yang tampaknya sederhana dibuat ala hotel bintang lima. Dilengkapi hiasan dan penyajian yang cantik, tempong pun serasa naik level.

Dari sawah naik ke hotel

Nasi tempong awalnya adalah makanan bekal ke sawah. Biasanya makanan itu disajikan dalam porsi besar. Nasi yang lengkap tersebut menjadi suplai energi bagi petani setelah bekerja keras di sawah.

Sambalnya yang menyengat membuat nasi tempong segera populer menjadi makanan yang banyak dicari. Kini banyak sekali warung dan restoran yang menjajakan nasi tempong sebagai menu utama.

Salah satu warung nasi tempong yang ternama adalah warung Mbok Tik di Jalan MT Haryono, depan radio VIS FM, Banyuwangi. Warung Mbok Tik selalu laris, bahkan hampir tak pernah sepi. Warung kaki lima itu hanya mempunyai meja sebaris. Setiap malam, warung ramai oleh para pembeli, sebagian besar masyarakat Banyuwangi, sebagian lagi adalah para pelancong yang ingin mencicipi kuliner khas Banyuwangi.

Rudi, salah satu pelanggan Mbok Tik dari Surabaya, mengatakan, sambal yang dibuat oleh Mbok Tik istimewa pedasnya. Sambal itu berbaur dengan daun kemangi mentah dan menciptakan rasa pedas sekaligus segar saat dikunyah. Pedasnya tempong juga diimbangi dengan segarnya rasa tomat ranti dan sedapnya terasi.

Warung Nasi Tempong Sumiyati juga terkenal di kalangan masyarakat Banyuwangi. Warung yang terletak di dekat perempatan Sukowidi ini memberikan porsi jumbo kepada para pembelinya. Pesan satu porsi nasi tempong, maka Anda akan mendapatkan tiga piring sekaligus, masing-masing berisi nasi pulen yang masih berasap, sepiring aneka sayur rebus yang melimpah, dan lauk-pauk lengkap, mulai dari tempe, tahu, perkedel jagung, hingga ikan asin. Harganya pun relatif miring, hanya Rp 12.000-Rp 15.000 per porsi.

Sumiyati yang sudah 20 tahun menjadi peramu tempong memilih menggunakan cara tradisional untuk menanak nasi. Jika yang lain menggunakan penanak dan penghangat nasi otomatis, Sumiyati memilih tetap memakai kukusan bambu. Dengan cara ini, ia bisa menyajikan nasi yang pulen dan konsisten rasanya, juga menyediakan lauk tambahan sesuai selera, seperti telur dadar, ayam goreng, ikan laut, dan cumi-cumi pedas.

Surya, salah satu pembeli dari Surabaya, menyebutkan, nasi tempong Bu Sumiyati berasa lebih mantap. Ia pun sanggup menghabiskan seporsi nasi tempong berukuran jumbo selama masih ada sambal dalam piringnya. ”Nasinya pulen, sambalnya nagih,” katanya.

Murah

Jika ingin harga yang murah lagi, warung Mbok Nah tempatnya. Warung di Jalan Kolonel Sugiarto No 16, Kertosari, ini menjadi langganan berbagai kalangan, dari anak kos hingga pejabat dan pelancong dari luar negeri.

Harga seporsi nasi tempong di Mbok Nah hanya Rp 6.000-Rp 12.000, hampir sama dengan harga nasi bungkus. Bedanya, Mbok Nah menyajikan makanan secara segar. Tak heran jika setiap sore hingga malam, warung Mbok Nah tak pernah sepi dari antrean pembeli. ”Sehari rata-rata 500 porsi terjual,” katanya.

Dua atau tiga tahun terakhir, setelah pariwisata Banyuwangi menggeliat, sego tempong ikut naik pamor. Makanan ini hadir di restoran dan hotel di Banyuwangi. Di tempat-tempat itu, sego tempong tampil lebih elegan dengan porsi yang pas. Di restoran Pelangi Sari, Jalan Jember, Kecamatan Kabat, misalnya, sego tempong ditata cantik dalam piring beralas daun pisang. Nasinya bertabur bawang goreng yang gurih. Pengunjung dapat menikmatinya dengan cara duduk lesehan ataupun di kursi ditemani aneka minuman, di tempat yang lebih luas dan nyaman ketimbang di kaki lima.

Hotel Blambangan juga menyajikan nasi tempong dengan suasana lawas banyuwangian. Nasi tempong yang pedas dengan porsi yang pas bisa dipesan dengan minuman tradisional temulawak khas Banyuwangi tempo dulu. Camilan tradisional seperti kelemben atau bolu tradisional dan lepet juga bisa menjadi teman seusai bersantap di hotel berarsitektur Belanda itu.

Budayawan Hasnan Singodimayan mengatakan, sego tempong yang notabene makanan rakyat merepresentasikan kekayaan hasil bumi dari Banyuwangi. Nasi berasal dari beras banyuwangi yang terkenal pulen. Nasi itu disantap dengan sambal dari gerusan rawit kawasan penghasil cabai Wongsorejo, dilengkapi lauk dari hasil laut dari pesisir Selat Bali, serta berpadu dengan rasa manis labu siam, sayur genjer, hingga terong dari kaki Gunung Ijen.